Monday, April 12, 2010

Di Sela-sela Ngerjain TA







"SAYA BISA MEMAAFKAN TAPI TIDAK BISA MELUPAKAN".

Setelah saya melepaskan perkataan seperti di atas, ada seseorang bilang,,, "oke, kalo ga bisa melupakan nanti bakalan keinget-inget terus dan jadi kesel lagi dan jadi marah lagi dan artinya itu ga memaafkan sungguh-sungguh.."


Kemudian saya DIAM..... dan mikir kalo itu emang benar sekali. Kayanya istilah forgiven not forgotten udah harus diubah. Forgiven is forgiven. that's all. Try feeling free to not bargain it... :(( HUWAH.


Ya ya itu emang gampang diucapkan tapi pada pelaksanaannya sulit sekali minta ampun. apalagi kalo memaafkan untuk sesuatu yang menyakitkan (walo tingkat menyakitkan pun itu sendiri sangat relatif, bisa jadi bagi si objek hal itu sangat luar biasa menyakitkan sampai harus menyita lebih dari setengah pikirannya cuma untuk mikirin kesakitannya yang memang overrated feelings namun bagi si subjek pelaku itu mungkin hal yang biasa aj...may it is such a "does-it-matter-for-me-?" thing. Menyakiti orang emang lebih gampang, sorry to say.

Minta maaf gampang, memberi maaf juga gampang ko. kalo cuma sekedar kata "ya saya maafin" udah. gitu aja. selebihnya... PIKIRAN PIKIRAN tentang itu masih aja berseliweran dan menggangu juga merely something like fear who ghosts u all the time!. kebayang dan kekhawatiran hal itu bakal keulang atau apapun itu emang ga bisa ditolak. Hey it's natural. Coba sini acungkan tangan yang bisa langsung memaafkan dan melupakan. CLAP CLAP.

Ga ada maksud untuk pembenaran tapi opini saja.. seperti yang udah saya tulis diatas, forgiven is forgiven. There's nothing to deal with unforgotten thing.
Dan kayanya saya bakal terus berusaha untuk memaafkan dengan ikhlas tanpa harus mengingat-ingat lagi. belajar memaafkan sungguh-sungguh,,,, toh yang untung bukan pihak yang dimaafkan tapi justru kita sendiri. cheers.

g



Terus saya iseng browsing tentang masalah "PERMAAFAN" ini dan nemu satu artikel yang bagus kaya ini :

Memaafkan adalah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang, Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres.

Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih.

Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Melupakan kebencian dan dapat memaafkan?” Mungkin kita belum mampu memaafkan karena masih merasa sangat terkejut dan terluka, khawatir bila perbuatan diulang, takut terlihat “lemah” dengan memaafkan, atau menganggap memaafkan akan melanggar prinsip keadilan yang selama ini diyakini.

(sumber : http://metaholic.wordpress.com/2009/05/03/memaafkan/)









0 comment:

Post a Comment